forrest club

light & deep hanging out with us in the heart of Denpasar

0

Stand-Up & Take Action: End Poverty in Bali, 18 Oct’09

SUTA
FOR IMMEDIATE RELEASE

19 October 2009

MORE THAN FOUR THOUSAND PEOPLE PLEDGING TO END POVERTY AT PUPUTAN

Denpasar, 18 October 2009 – From the early estimation of 500, this afternoon at 5:30 P.M. at Lapangan Puputan Badung, about more than 4000 people gathered, stood-up in the reading of the pledge to end poverty in Stand-up and Take Action – SUTA Campaign. Apart from the civil society of all classes, the Vice Major of Denpasar, the Regional Secretary of Bali Province dan representative of the Provincial Legislative Assembly, too, mingled and showed their enthusiasm in this activity.

The 2000 white rubber bands supply used to count the number of people were not enough, even about the same amount of people did not wear any. Nevertheless, the spirit was still on fire and the people seemed to enjoy the night of music by Bali’s indie bands. Tonight, report on the number of people standing-up has been sent to later be counted all over the world, to find out whether this year, SUTA can break the Guinness World Record for the biggest mass mobilization, breaking its own record last year, that was 116 million.

The poster exhibition which was earlier planned to be held on 16 October, has to be cancelled and moved to the front part of Bali Museum instead, together with the rest, including an additional event, MDGs discussion taking the theme of poverty with one of the speakers from the Provincial Legislative Assembly, Sumiati. Tents of MDGs services, subsidized food market, free healthcare services, cartoon exhibition, as well as street art – which seemed to interest the children the most, since they could express themselves freely – colored the driveway. This event, which was coordinated by Alase Bali working together with several organizations and the community elements in Bali, supported by the UNDP and the Government of Denpasar Municipality, has been successfully conducted. From here, it is expected that the world leaders can see and be reminded of their promises to achieve MDGs by 2015.

Media Contact:

PW Rudolf

forrest club, Jl. Cok Agung Tresna 118, Renon, Denpasar

Telp.: 0361-9271748 or 08191 626 3007

e-mail: pwrudolf@bicsworld.com

Posted in action | | No Comments
Comments Off

Fraternities & Sororities Party

ANCAK send offOne of the forresters, our brother, Ancak Wardana, who is the Director of WALHI – Indonesian environmental NGO – is going to the UK to pursue his Master Degree in Law.

He is a living sample of the youth, who has a strong vision of his homeland, Bali, particularly, in terms of the environment. We are so proud to have a Balinese like him. This farewell party was made to send him with a spirit of brotherhood & sisterhood.

We started with this very funny, sarcastic movie from Sacha Baron Cohen, who is more famous as Ali G, or Borat entitled BARON.  You should see this movie, it’s hilarious!!

As the choice of the rest of the movies were up to the crowd, after several tries, we finally came up with a melancholy movie – almost shed us tears (thank God it was dark), AUGUST RUSH.

We had a good, simple, yet touching fraternities & sororities party.

Posted in meeting/gathering, movie screening | | Comments Off
0

Pemutaran Film: BETINA (Kamis, 17 Sept’09 pk. 20.00)

“Terima kasih buat Kinaryosih, yang sudah muncul tiba-tiba mengejutkan kita semua yang hadir. Juga, terima kasih buat Jerinx SID dan Rude Boy Dodix yang ngasi kado paling indah malam itu”.


Absurditas Dunia Betina

Jum’at, 25 Agustus 2006 | 14:09 WIB

betina-2006TEMPO InteraktifJakarta: Perempuan semampai itu mendekat ke arah kandang, ke arah Dewa. Perlahan, dibukanya satu per satu kancing blusnya hingga akhirnya ia terbebas dari kungkungan. Setelah penutup dadanya tanggal, berahinya pun meledak tak terkendali. Ia lupa pada siapa atau pada apa tepatnya berahi itu disalurkan. Dewa bukanlah manusia berjenis kelamin, yang dengan gagah perkasa siap melayani libidonya. Dewa adalah seekor sapi jantan berwarna hitam pekat, satu-satunya teman yang dimiliki Betina (Kinaryosih).

Scene yang sensual itu muncul dalam film perdana Lola Amaria. Film itu, Betina, adalah film yang bercerita mengenai kehidupan orang-orang “sakit”. Betina adalah perempuan yang tumbuh dan besar di sebuah desa antah berantah. Sejak kecil, ia harus kehilangan kasih sayang ayahnya (Zairin Zain), seorang anggota militer. Gara-gara menulis buku bertajuk NKRI Bukan Tuhan, sang ayah diculik. Hingga Betina menjadi perempuan dewasa, sang ayah tak pernah diketahui rimbanya.

Tak hanya ia yang terguncang oleh kepergian sang ayah yang begitu tiba-tiba. Ibu Betina (Tutie Kirana) juga begitu terpukul hingga nalarnya ikut terguncang. Setelah kehilangan kasih sayang seorang ayah, Betina sekaligus kehilangan ibunya. Sehari-hari, pekerjaan ibu Betina hanyalah mencuci dan menyetrika seragam militer suaminya. Tak dihiraukannya sang anak yang mulai tumbuh menjadi gadis ranum.

Dunia “sakit” Betina semakin diperparah dengan perlakuan tak senonoh yang ia terima dari Juragan Ternak Sapi (Otig Pakis) dan kerabat Betina sendiri, Luta (Subur Sukirman). Namun, Betina tak pernah berkata-kata. Seluruh kesedihan dan kemarahan ia pendam begitu saja. Hingga suatu saat, panah cinta merasuk ke dalam hatinya yang telah lama beku. Sayang, sang pujaan hati adalah Penghulu Kematian (Agatsya Kandou). Artinya, hanya kematian demi kematianlah yang dapat mempertemukan Betina dengan pria itu. Bila perlu, kematian ibunya sendiri.

Tak banyak berbeda dengan dua film yang sebelumnya diproduseri Lola, Beth dan Novel tanpa Huruf R, film yang diproduksi sejak 2004 ini berusaha membawa penonton ke “dunia berbeda”. Hampir tak ada dialog dalam film berdurasi 70 menit ini. Sekiranya ada, hanyalah dialog-dialog tak penting yang tak akan membawa penonton ke mana pun.

Pengaruh sang mentor, Arya Kusumadewa, seperti diakui Lola, muncul dalam film ini. Kendati begitu, Lola berkilah, “Film ini masih ada romantisnya, sedangkan karya Arya sama sekali tidak.” Aroma surealisme pekat terasa meski Lola mengklaim film ini realis. Banyak hal dalam film ini yang tidak sejalan dengan realitas dunia sehari-hari kita, apalagi masih ditambah minimnya dialog. Bahkan, tanpa membaca sinopsis, kemungkinan besar penonton akan mengalami kesulitan memahami Betina dan pergolakan batinnya.

Setting waktu dan tempat sedari awal menjadi sebuah pertanyaan besar. Bila menyaksikan visualisasi Betina, penonton seperti dibawa mundur dengan mesin waktu. Lokasinya pun tampak antah berantah, yang diperkuat dengan simbol-simbol, seperti kuburan segi tiga yang sulit ditemukan di dunia nyata. Tapi lagu Bang Thoyibdan Only You, yang diputar radio, menjadikan film ini rancu, kapan dan di bagian negeri Indonesia manakah Betina menghirup napasnya.

Kostum juga menjadi masalah sendiri. Pakaian-pakaian Betina, meski lusuh, tampak sensual untuk ukuran seorang gadis yang tinggal di desa. Sayang sekali banyak detail yang tak tergarap rapi untuk sebuah film yang memakan masa produksi hingga dua tahun ini. Bagian terbaik dari sekian banyak kelemahan film ini di antaranya terletak pada akting Kinaryosih. Ia dengan cemerlang mampu menerjemahkan absurditas dunia Betina kepada penonton.

SITA PLANASARI A

Posted in movie screening | | No Comments
0

Book Launching: “Gay Archipelago: Seksualitas dan Bangsa di Indonesia”, 10 August’09

gay-archipelago-tom-boellstroffBERITA PERS

Oleh: PW Rudolf

Selasa, 11 Agustus 2009

Buku ini bukan novel atau cerita perjalanan ataupun ekspose kehidupan malam gila orang elit. Jangan berharap untuk membaca cerita erotis di tempat-tempat pijat, spa dan sebagainya dari buku Tom Boellstroff yang berjudul Gay Archipelago: Seksualitas dan Bangsa di Indonesia yang Senin, 10 Agustus 2009 kemarin baru saja diluncurkan dalam versi terjemahan bahasa Indonesia di forrestClub, Renon (Denpasar) sebagai rangkaian acara Q Film Festival yang berlangsung dari tanggal 7 – 13 Agustus 2009. Dalam acara ini sang penulis sendiri hadir sebagai pembicara ditemani pembicara tamu ternama, Dédé Oetomo dari Gaya Nusantara dan dimoderasi Dimas Hary dari Q Film Festival. Versi asli buku ini (bahasa Inggris) telah empat tahun yang silam diterbitkan secara umum.

Buku Tom bisa dibaca tidak hanya oleh para antropolog namun juga masyarakat awam yang ingin mengetahui tentang studi antropologis tentang kebudayaan dan kehidupan sehari-hari orang gay Indonesia. Tom Boellstorff adalah Profesor bidang Antropologi dari University of California (Irvine) dan Editor-in-Chief Jurnal Antropologi Amerika. Sang penulis asal Amerika ini dibesarkan di Nebraska, sebuah negara bagian di Amerika Serikat dimana disana jarang, ungkap Tom, bisa mendapatkan kesempatan menemukan cara hidup lain.

Buku ini tidak ditulis begitu saja, namun melalui sebuah penelitian yang ekstensif selama bertahun-tahun, pada tahun 1995, 1997-1998, 2000 dan sesudahnya. Tom pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1992 dan bekerja-sama dengan beberapa kelompok/yayasan sebagai pelatih petugas outreach di bidang HIV/AIDS. Penelitian Tom merupakan penelitian etnografik yang dilakukan di Surabaya, Makassar, Bali dan beberapa kota lainnya di Indonesia yang berdasarkan “participant observation” (ikut serta dalam kegiatan sehari-hari dan mengamati kegiatan tersebut) ditambah dengan wawancara, penelitian sejarah, kelompok diskusi dan sebagainya. Hasil penelitian ini dibuatkan beberapa makalah dan dua buku, yakni The Gay Archipelago: Sexuality and Nation in Indonesia (2005) dan A Coincidence of Desires: Anthropology, Queer Studies, Indonesia (2007, yang belum diterjemahkan) yang diterbitkan Duke University Press.

Harapan Tom adalah agar terjemahan ini mendukung topik LGBT makin lama makin dianggap hal wajar untuk dibahas dan dijadikan topik penelitian dan semoga terjemahan ini menarik dan berguna pada sekian orang non-antropolog.

Tentang Q Film Festival

Q Film Festival telah diadakan sejak tahun 2002 dan merupakan acara pertama di Indonesia yang mendukung interaksi, mengedukasi masyarakat dan mainstream tentang isu-isu seputar homoseksualitas melalui bahasa visual dan sarana mainstream lainnya. Tujuan daripada festival ini adalah untuk membangun kekuatan politik yang lebih bersatu untuk mengadvokasi toleransi terhadap keragaman seksual. Festival ini sendiri berupaya untuk membuat perubahan melalui sebuah pendekatan budaya yang baru.

Setelah berkembang selama lebih dari enam tahun, QFF sekarang berkembang ke lima wilayah berbeda yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali, dan telah menjadi festival film tersukses di jenisnya di Asia. Salah satu titik tolak paling fundamental adalah ketika penghargaan dari Film Festival Berlin, Teddy Awards, diberikan kepada QFF, dan mereka setuju mengafiliasikan QFF pada tahun 2006. Sekarang, Q Film Festival sah menjadi program “Teddy Award on Tour” dan juga diakui menjadi salah satu sirkuit festival film internasional.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan klik:
http://qfilmfestival.org

Tentang forrestClub

forrestClub adalah klub baru di pusat kota Denpasar, Renon, yang ditujukan bagi warga yang berbudaya, untuk ‘deep-hanging out’ (bersantai memikirkan hal-hal berat) dan ‘light hanging-out’ (bersenang-senang saja seperti: main musik, nonton film bareng dan sebagainya) dengan fasilitas pendukung, wi-fi gratis dan perpustakaan kecil. Disini beberapa komunitas sering berkumpul, terutama komunitas musik, sastra dan film.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan klik:
http://forrestclub.org

Posted in book club | Tagged: , | No Comments
2

Q Film Festival 7-12 August’09

q-film-festival-2009-bali

bali-q-film-festival-8Q! Film Festival entered the scene since 2002, the first ever in Indonesia, to provide events that encourage interaction, educ ate people and mainstream the issues related to homosexuality through the language of visuals and other mainstream tools.
Read the rest of this entry »

Posted in movie screening | Tagged: | 2 Comments